Mengaku-aku - By Ustad Felix Siauw, Soal Aksi 212

Ad bawah Judul
                                                                       foto:tribunnews

Salah satu yang saya sangat kagumi dengan aksi 212 dari awal hingga kemarin adalah, tidak ada yang mengaku-aku atau merasa paling berjasa dalam aksi ini.
Sebaliknya, semua habaib, asatidz, ulama dan tokoh, serta organisasi kompak menyatakan, "Ini tak mungkin kerja manusia, ini karunia Allah" begitu.
Maka wajar 212 seperti dimiliki ummat, mereka dengan sukarela datang dengan harta dan jiwa mereka, menjaga aksi bahkan sampai aksi bersih-bersihnya.
Lihat saja, aksi mana yang anggota marketingnya adalah setiap peserta, begitu juga donaturnya, begitu juga dengan pengisi acaranya? Tak ada selain di aksi ini.
Begitulah Islam, mengikis ke-aku-an diri, seperti saat selepas shalat kita diminta istighfar. Jadi kalau ada yang suka mengaku-aku, semangatnya jauh dari Islam.
Seperti yang saya dengat semalam di satu tayangan, "212 sudah berlangsung baik, kita beri apresiasi atas kinerja kapolri dan presiden atas keberhasilannya", loh
Atau seperti perkataan si pengamat lucu lain di tayangan yang sama, "Yang hadir disitu mayoritas Hizbut Tahrir". Jangan tertawa, doakan saja dia segera sembuh.
Lucu kan, panitia yang mengadakan acara, habaib, asatidz, ulama dan tokoh, serta organisasi Islam yang mendukung saja tak ada yang mengaku-aku seperti itu.
Tapi tak apa, ummat sudah dewasa, tahu persis siapa yang suka mengaku-aku, siapa yang suka bicara "saya, saya, saya", siapa yang hobinya berbohong.
Komentar buruk apapun tak bisa menggantikan rasa dalam hati kita. Haru, bangga, khidmat yang kita dapat ketika aksi 212 dan reuninya, indah di semua sisi.
Pelajaran berharga, beritahu anak-anak kita, Islam itu meniadakan diri kita, dan menjadikan besar hanya Allah. Bukan mengaku-aku karya orang lain.

Sumber: Facebook

Ads diBawah Artikel
Ads Matched Content